Berita Islami Masa Kini (BIMK) adalah sebuah komunitas yang beranggotakan organisasi-organisasi anggota, Driver Printer Panasonic, Brother, Driver Canon, Kyocera, Ricoh, Driver printer konika, dan masyarakat umum yang bekerja sama dalam mengembangkan standar Web Driver, Berita islam terkini, kumpulan situs berita islam ummat di indonesia

Senin, 10 April 2023

Kisah Sayyidina Abu Al-Darda singkat

Siapakah Sayyiduna Abu Al-Darda رضي الله عنه ?

Nama Sayyiduna Abu Al-Darda رضي الله عنه

Lahir: Tidak ada tanggal yang ditemukan

Wafat: 21 tahun setelah Nabi kita tercinta shallallahu alayhi wasallam (32 H)

Abu al-Darda رضي الله عنه dikenal dengan ilmu, kebijaksanaan dan kesalehannya dan dikenal karena ketidaksukaannya terhadap dunia.

Kisah Abu Darda dan

Nama aslinya adalah Uwaymir, namun lebih dikenal dengan gelar Abu al-Darda radhiyallahu anhu. Beliau juga diberi gelar Hakiimul Ummah (orang yang bijaksana dari umat).

Beliau berasal dari suku Khazraj dan termasuk salah satu dari kaum Anshar yang tinggal di Madinah Munawwarah sebelum kedatangan Nabi ﷺ yang tercinta.

Sebelum Islam, Abu Al-Darda radhiyallahu anhu adalah seorang pengusaha, setelah Islam ia mencoba menggabungkan bisnis dengan ibadah, namun ketika ia menemukan bahwa hal itu tidak memungkinkan, ia meninggalkan bisnisnya dan menjalani kehidupan yang penuh dengan ibadah kepada Allah Ta'ala.

Beliau adalah salah satu sahabat Anshar yang terakhir menerima Islam, memeluk Islam pada tahun 2 H selama perang Badar.

Setelah menerima Islam, ia berpartisipasi dalam perang Uhud di mana ia bertempur dengan sangat berani melindungi Nabi ﷺ yang kita cintai.

Beliau mendapat kehormatan untuk membacakan Al-Qur'an kepada Nabi kita tercinta ﷺ dan terpilih menjadi salah satu orang yang mengumpulkan Al-Qur'an pada masa Nabi kita tercinta ﷺ.

Para sahabat berkata: Uwaymir telah mengikuti para sahabat elit (istimewa) dalam hal kecerdasan. (Siyar)

Ketika Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu menjelang ajal, ia berpesan kepada orang-orang di sekitarnya untuk mengambil ilmu dari empat orang, salah satunya adalah Abu Al-Darda radhiyallahu 'anhu. (Siyar)

Salah satu sifat luar biasa yang beliau miliki adalah zuhud dan tidak menyukai hal-hal duniawi. Rumahnya kecil dan kondisi kehidupannya sangat minim, bahkan sering kali sangat memprihatinkan. Beliau hanya memiliki sedikit ketertarikan terhadap harta benda duniawi.

Beliau juga sangat berilmu dan selalu menasehati untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkannya.

Pada masa Umar radhiyallahu anhu, beliau dikirim ke Damaskus untuk mengajar orang-orang. Beliau mengajar ribuan orang.

Nabi ﷺ yang kita cintai menganggapnya sebagai salah satu sahabat dekatnya. Beliau meriwayatkan 179 Ahadiits dari Nabi kita tercinta ﷺ.

Setelah Nabi kita tercinta ﷺ wafat, beliau terus melayani Deen dan memberikan kekuatan kepada Islam.

Beliau wafat di Damaskus, pada masa pemerintahan Sayyiduna Utsman رضي الله عنه pada tahun 32 Hijriah.

Semoga Allah Ta'ala memberikan pahala yang besar untuk semua jasanya kepada Rasulullah ﷺ dan kepada agama serta memberikan kita semua kemampuan untuk meneladani para sahabatnya yang agung dalam segala hal.

1) Ilmu/Pelajaran: Sayyiduna Abu al-Darda رضي الله عنه memiliki minat yang besar untuk memperoleh pengetahuan. Kami menemukan 179 Hadits dari Nabi ﷺ tercinta yang diriwayatkan olehnya.

2) Kesederhanaan: Beliau sangat sederhana dan tidak pernah lepas dari hal-hal yang bersifat material di dunia ini.

3) Bijaksana: Beliau sangat bijaksana dan berpengetahuan luas sehingga beliau diberi gelar Hakiimul Ummah (orang yang bijaksana di antara umat)

4) Beribadah: Setelah menerima Islam, beliau mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, berdiri dalam shalat malam dan membaca Al-Qur'an yang mulia.

5) Kepercayaan: Karena integritas (kepercayaan), pengetahuan dan keterikatannya pada Al-Qur'an, beliau terpilih menjadi salah satu orang yang mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia.

Keutamaan

Sayyiduna Anas radhiyallahu anhu berkata, Ketika Rasulullah ﷺ wafat, tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur'an kecuali empat orang: Abu al-Darda, Muadz Ibnu Jabal, Zaid Ibnu Tsabit dan Abu Zaid radhiyallahu anhum. (Bukhari)

Sayyiduna Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: "Dua orang yang berintelektual adalah Muadz Ibnu Jabal dan Abu al-Darda radhiyallahu anhum". (Siyar)

Ketika Muadh Ibnu Jabal radhiyallahu anhu berada di ranjang kematiannya, dia menasihati orang-orang di sekitarnya. Di antara nasihatnya adalah untuk mengambil 'Ilm dari empat orang, salah satunya adalah Abu al-Darda radhiyallahu anhu. (Siyar)

Meneladani Nabi ﷺ

Ummu Darda radhiyallahu anha berkata:

Abu al-Darda tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits kecuali dia tersenyum. Maka aku berkata kepadanya: Aku khawatir orang-orang akan mengira engkau bodoh. Dia berkata: Rasulullah ﷺ tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits kecuali beliau tersenyum. (HR. Ahmad).

Ketakwaannya

Rasulullah ﷺ menjalin persaudaraan antara Abu Darda dan Salman radhiyallahu anhuma.

Suatu ketika Salman datang mengunjunginya dan ia melihat istrinya, Ummu Darda, dalam keadaan tidak sehat.

Dia berkata:

apa yang terjadi?

Dia berkata:

Saudaramu tidak membutuhkan dunia. Dia berdiri dalam shalat sepanjang malam, dan berpuasa di siang hari.

Ketika Abu al-Darda datang dan dihidangkan makanan, Salman radhiyallahu anhu berkata:

"Makanlah!"

Ia menjawab:

"Aku sedang berpuasa."

Salman memaksanya untuk makan, maka ia pun makan bersamanya.

Kemudian Salman bermalam bersamanya. Ketika Abu Darda berniat bangun untuk salat, Salman mencegahnya dan berkata

"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu. Begitu juga tuanmu, begitu juga keluargamu. Berpuasalah dan berbukalah. Laksanakanlah shalat dan pergilah kepada keluargamu. Berikanlah kepada masing-masing haknya."

Mereka pergi menemui Rasulullah ﷺ keesokan harinya. Abu al-Darda menceritakan kepada Rasulullah ﷺ tentang kejadian itu. Rasulullah ﷺ juga menceritakan apa yang dikatakan Salman kepadanya.

(Tirmidzi)

Baca juga Kisah Sayyidina Ammar Bin Yasir singkat

Pendidikan Nabawi

Suatu ketika, Umar radhiyallahu anhu di masa kekhalifahannya pergi mengunjungi Abu al-Darda radhiyallahu anhu. Setelah mengetuk pintu, dia menyadari bahwa tidak ada kunci di pintu itu. Beliau pun masuk. Dia memasuki rumah itu, yang hanya berupa sebuah ruangan dan karena kegelapan yang parah, dia tidak dapat melihatnya, yang menunjukkan bahwa dia tidak memiliki alat penerangan atau lilin yang menyala dalam hal ini. Dia menyentuh bantalnya dan dia menyadari bahwa dia menggunakan pelana sebagai bantalnya. Ia meraba selimutnya dan ia menyadari bahwa selimutnya sangat tipis.

Umar radhiyallahu anhu berkata: Bukankah aku telah memberimu cukup? Apakah aku tidak memperlakukanmu dengan baik?

Abu al-Darda radhiyallahu anhu berkata: Aku ingat sebuah hadits yang Rasulullah ﷺ katakan kepada kami, "Hendaklah rezeki kalian di dunia seperti rezeki seorang musafir/pengendara."

Ia kemudian berkata, "Apa yang telah kita lakukan setelah kematiannya? Mereka berdua mulai menangis hingga pagi hari.

(Siyar)

Kisah Sayyidina Abu Al-Darda singkat Diposkan Oleh:

0 comments:

Posting Komentar