Berita islam terkini

loading...

Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut

Inilah Tiga Keadaan Manusia Pada Saat Sekarat Serta Tempat Kembali Setiap golongan dari Mereka


فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٨٨﴾ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ ﴿٨٩﴾ وَأَمَّا إِن كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ ﴿٩٠﴾ فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ ﴿٩١﴾ وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ ﴿٩٢﴾ فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٩٣﴾وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ ﴿٩٤﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ ﴿٩٥﴾ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ ﴿٩٦

“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 56:88) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan. (QS. 56:89) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. (QS. 56:90) maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan. (QS. 56:91) Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,  (QS. 56:92) maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, (QS. 56:93) dan dibakar di dalam jahannam. (QS. 56:94) Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (QS. 56:95) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.”  (QS. 56:96)

Tiga keadaan manusia pada saat sakaratul maut: 1) ada kemungkinan dia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, 2) ada kemungkinan dia termasuk orang-orang yang berada setingkat di bawahnya dari kalangan golongan kanan, dan 3) ada kemungkinan dia termasuk orang-orang yang mendustakan kebenaran, sesat, serta jauh dari petunjuk, sedang ia tidak mengetahui perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

http://www.umatnabi.com/2017/10/dahsyatnya-proses-sakaratul-maut.html

Keadaan golongan pertama, orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ( فَأَمَّا إِن كَانَ) “Adapun jika dia,“ orang yang sekarat (مِنَ الْمُقَرَّبِينَ) “Termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah).” Mereka itulah orang-orang yang menunaikan perkara-perkara wajib dan mustahab (yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan meninggalkan perkara-perkara haram, makruh (yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala) serta sebagian dari hal-hal mubah. (فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ) “Maka dia memperoleh rizki serta Surga kenikmatan.” Mereka akan mendapatkan ketenteraman dan kesenangan serta para Malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka di saat mereka menghadapi kematian sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits al-Bara’ yang menyebutkan bahwa para Malaikat rahmat berkata, “Wahai ruh yang baik, yang berada di dalam jasad yang baik, keluarlah kamu menuju ketenteraman, kesenangan dan menemui Rabb yang tidak murka.” 1

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (فَرَوْحٌ) “Maka dia memperoleh ketenteraman.” Yaitu ketenteraman dan kesenangan. Dia beristirahat.” 2 Ucapan yang sama dikatakan oleh Mujahid, dia berkata, “Ar-rauh adalah istirahat.” 3 Abu Hazrah berkata, “Istirahat dari (kelelahan) di dunia.” Sa’id bin Jubair dan as-Suddi berkata, “Ar-rauh adalah kebahagiaan dan kesenangan.”

Diriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ)  “Maka dia memperoleh ketenteraman dan rizki,” yakni Surga dan kesenangan. Qatadah berkata, “Rauh adalah rahmat.” Ibnu ‘Abbas r.a, Mujahid dan Sa’id bin Jubair berkata, “Raihan adalah rizki.” Semua penafsiran ini memiliki kesamaan dan kebenaran, karena siapa yang meninggal sebagai orang yang didekatkan kepada Allah maka dia akan memperoleh semua itu, mencakup rahmat, ketenangan, ketenteraman, kebahagiaan kesenangan, kegembiraan dan rizki yang baik.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَجَنَّتُ نَعِيمٍ) “Dan surga kenikmatan.” Abul ‘Aliyah berkata, “Tidaklah ruh seseorang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terpisah dari jasadnya, kecuali sebelumnya didatangkan suatu tangkai dari pepohonan Surga yang harum. Sesudah itu barulah ruhnya dicabut dari jasadnya.” 4 Muhammad bin Ka’ab berkata, “Tidaklah salah satu dari manusia meninggal dunia sehingga dia mengetahui apakah dia termasuk penghuni Surga atau penghuni Neraka.”

Dalam ash-Shahiih, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di taman-taman Surga sekehendak hatinya, kemudian hinggap di lentera-lentera yang bergantungan di ‘Arsy.” 5

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Atha’ bin as Sa-ib, ia berkata, “Di hari pertama aku mengenal ‘Abdurrahman bin Abi Laila, aku melihatnya sebagai seorang laki-laki tua dengan rambut dan jenggot yang telah beruban. Ia sedang mengendarai keledai mengiring jenazah. Aku mendengarnya berkata, fulan bin fulan menyampaikan kepadaku, bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak senang bertemu dengannya.” Kemudian para Sahabat pun menangis, Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang membuat kalian menangis?” Para sahabat berkata, “Kami membenci kematian.” Rasulullah SAW bersabda: “Bukan begitu, tapi yang dimaksud adalah: Pada saat sekarat, “Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh rizki serta Surga kenikmatan.” Dan ketika seseorang telah dikabari berita gembira itu, ia pun merasa senang untuk bertemu dengan Allah dan Allah pun lebih senang bertemu dengannya, “Dan adapun jika termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Neraka.” Ketika dia diberi ‘berita gembira’ tersebut, maka ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah lebih tidak senang bertemu dengannya.” 6

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hadits ‘Aisyah yang tertera dalam ash-Shahiih menguatkan riwayat tersebut. 7

Keadaan golongan kedua, orang-orang yang berada setingkat di bawahnya dari kalangan golongan kanan

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(وَأَمَّا إِن كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ ) “Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan.” Yaitu, jika orang yang sedang sakarat itu termasuk golongan kanan. (فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ) “Maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.” Maksudnya, para Malaikat menyambut berita gembira ini kepada mereka. Malaikat berkata kepada seseorang dari mereka, “Keselamatan untukmu, tidak ada persoalan atasmu, kamu menuju kepada keselamatan, dan kamu termasuk golongan kanan.”

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, “Malaikat mengucapkan salam padanya dan memberitahu bahwa dia termasuk golongan kanan.” Makna ini baik dan hal itu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّـهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32).

Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (فَسَلَامٌ لَّكَ) “Maka keselamatan bagimu.” Al-Bukhari berkata, “Artinya, (Malaikat itu berkata), ‘Selamat untukmu karena kamu termasuk golongan kanan.’ Dan fungsi huruf “in” ditanggalkan, tetapi maknanya tidak berubah. Hal ini sebagaimana perkataanmu, “Kamu dipercaya melakukan perjalanan sebentar lagi.” Jika dia telah berkata, “Sesungguhnya aku musafir sebentar lagi.” Ada kemungkinan ia ibarat doa untuknya seperti ucapanmu, “suqyallaka minarrojaali” (Dari orang-orang semoga kamu mendapatkan air).” Jika kamu membaca as-salam dengan rafa’ maka ia termasuk doa, 8 Seperti itulah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir menukil dari sebagian ahli bahasa Arab dan dia cenderung kepada pendapat ini. Wallahu’alam. 9

Keadaan golongan ketiga, orang-orang yang mendustakan kebenaran, sesat, serta jauh dari petunjuk, sedang ia tidak mengetahui perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ ﴿٩٢﴾ فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٩٣﴾وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ ) “Dan adapun jika termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat. Maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Neraka.” Artinya, jika yang sekarat adalah termasuk golongan yang mendustakan kebenaran dan tersesat tidak mendapat petunjuk, ( فَنُزُلٌ) “Maka dia mendapatkan hidangan.” Yakni jamuannya adalah ( مِّنْ حَمِيمٍ) “Air yang mendidih.” Yaitu air yang bisa menghancurkan semua isi perut dan kulit. (وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ) “ Dan dibakar di dalam Neraka.” Yakni, dia ditempatkan di Neraka yang mengepungnya dari segala penjuru. Selanjutnya, Allah SWT berfirman, ( إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ ) “Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.” Yaitu, berita tersebut merupakan berita benar dan meyakinkan yang tidak terselip sedikit pun keraguan. Tidak seorang pun yang bisa lari darinya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ) “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Mahabesar.”

Diriwayatkan dari Jabir ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang membaca Subhanallaahil azhiim dan Subhaanallaah wabihamdihi,’ akan ditanamkan baginya pohon kurma di Surga.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. At-Tirmidzi berkata, “Hasan gharib.” 10

Al-Bukhari meriwayatkan di bagian akhir kitabnya dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Dua kalimat yang ringan diucapkan, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah Yang Maha Pemurah, Subhaanallaah wa bihamdihi (Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala puji bagi-Nya) dan subhaanallaahil azhiim (Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta’ala  Yang Maha agung).” 11 Diriwayatkan jama’ah, kecuali Abu Dawud. 12 [Syahida.com/ANW]

—————

1 Ath-Thiwaal (hal: 238)

2 Ath-Thabari (XXIII/238)

3 Ath-Thabari (XXIII/160)

4 Ath-Thabari (XXIII/160)

5 Muslim (III/1502). [Muslim (No. 1887)].

6 Ahmad (IV/259). [Ahmad (No. 18283). Sanadnya hasan karena ‘Atha’ bin as-Sa-ib, al-Bukhari meriwayatkan satu hadits muataba’ah untuknya. Lihat musnad Ahmad tahqiq Syaikh al-Arna-uth dan kawan-kawan (pendukung). Cetakan Mu-assasah ar-Risalah, Beirut].

7 Fat-hul Baari (XI/364), Muslim (IV/2065). [Al-Bukhari (No. 6507) dan Muslim (No. 2683)].

8 Al-Bukhari, Tafsiir Suuratul Waaqi’ah.

9 Ath-Thabari (XXIII/162)

10 Tuhfatul Ahwaadzi (IX/434); an-Nasa-i, as-Sunnatul Kubraa (VI/207). [At-Tirmidzi (No. 3464) dan an-Nasa-i (No. 10663). Shahih, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (No. 6429)]

11 Fat-hul Baari (XIII/547). [Al-Bukhari (no. 6406)]

12 Muslim (IV/2074), Tuhfatul Ahwadzi (IX/434), an-Nasa-i, as-Sunanul Kubraa (VI/207). Ibnu Majah (II/1215). [Muslim (No.2694), at-Tirmidzi (No. 3467), an-Nasa-i (No. 10666) dan Ibnu Majah (No. 3806)].

=====

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 8, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut Rating: 4.5 Posted by: Rahmi Fajri